Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, mengimbau para wali asuh dan wali asrama di Sekolah Rakyat untuk senantiasa menjadi teladan dan kompas moral bagi para siswa. Ia menekankan bahwa keberhasilan pendidikan berasrama tidak semata-mata bergantung pada pengajaran di kelas, melainkan juga pada kedisiplinan dan pendampingan yang diberikan di lingkungan asrama.
“Keberhasilan penyelenggaraan Sekolah Rakyat salah satunya ditentukan oleh seberapa jauh wali asrama bekerja, melakukan pendampingan, bimbingan, pengasuhan kepada siswa-siswa Sekolah Rakyat,” ujar Gus Ipul dalam keterangan tertulisnya, Kamis (8/10/2026). Ia menambahkan, “Saudara-saudaralah yang bertemu setiap hari siswa-siswa Sekolah Rakyat. Saudara-saudaralah yang tiap hari mengetahui perkembangan siswa Sekolah Rakyat.” Pernyataan ini disampaikan saat Gus Ipul mengunjungi Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Padang, Sumatera Barat, pada Rabu (7/10).
Gus Ipul menjelaskan bahwa peran wali asuh dan wali asrama lebih dari sekadar menjalankan rutinitas harian. Mereka diharapkan mampu menjadi pembimbing, teladan, sekaligus figur orang tua bagi anak-anak selama berada di Sekolah Rakyat. “Jadilah kompas moral, jadilah teladan, jadi pembimbing, jadi orang tua dari siswa-siswa Sekolah Rakyat yang sebagian punya masalah besar, sebagian lagi perlu bimbingan,” tegasnya. Ia juga berpesan agar para wali bekerja dengan sungguh-sungguh, totalitas, empati, dan penuh tanggung jawab, serta saling mengingatkan dan mengawasi.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Ipul mengajak dua siswa SRMP 4 Padang naik ke panggung untuk berbincang mengenai keluarga, pengalaman sebelum masuk Sekolah Rakyat, kehidupan di asrama, hingga cita-cita mereka. Siswa pertama, Muhammad Habib Munthe, yang berasal dari keluarga kurang mampu, mengungkapkan bahwa setahun di Sekolah Rakyat membuatnya lebih percaya diri. “Kalau sebelumnya masuk di Sekolah Rakyat sih, Bapak, cuma dengan bimbingan guru-guru serta tenaga kependidikan yang di SRMP 4 Padang, saya lebih percaya diri untuk tampil ke depannya,” ujarnya, seraya bercita-cita menjadi diplomat. Ia merasa sangat terbantu oleh dukungan guru dan tenaga kependidikan.
Siswa kedua, Erziza Febriani Chaniago, juga berasal dari keluarga dengan kondisi serupa. Awalnya ia merasa ragu untuk melanjutkan sekolah, namun kini ia aktif dalam kegiatan menari dan olahraga atletik. “Awalnya itu saya merasa tidak percaya diri dan saya tidak merasa akan bisa lanjut sekolah. Jadi, saya ragu atas apakah saya bisa lanjut sekolah, apakah saya bisa menjadi orang ke depannya,” ungkap Erziza. Ia menambahkan, “Dan atas program Bapak Presiden Prabowo ini, saya sangat senang atas Sekolah Rakyat karena saya bisa berprestasi, berkreasi di sini.” Gus Ipul menggunakan cerita kedua siswa ini untuk menekankan bahwa perubahan pada anak tidak hanya datang dari fasilitas, tetapi juga dari pendampingan intensif oleh orang-orang di sekitar mereka.
Gus Ipul juga menegaskan tiga larangan keras di lingkungan Sekolah Rakyat: perundungan, kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi. “Jangan lakukan tiga hal. Ini dosa besar di dunia pendidikan. Jangan lakukan perundungan, bullying. Jangan lakukan kekerasan fisik maupun seksual. Dan yang ketiga, jangan lakukan intoleransi,” tegasnya. Ia meminta seluruh elemen Sekolah Rakyat untuk saling mengawasi dan melaporkan jika menemukan pelanggaran, dengan jaminan kerahasiaan identitas pelapor. “Saya tidak ingin menandatangani untuk memberhentikan para tenaga kependidikan Sekolah Rakyat. Tapi justru sebaliknya, saya ingin menandatangani prestasi-prestasi yang ditorehkan oleh seluruh pemangku kepentingan Sekolah Rakyat,” katanya.
Sesi arahan berjalan dua arah, di mana para peserta diberi kesempatan menyampaikan pengalaman dan persoalan. Ayub Saputra, wali asuh SRT 3 Provinsi Bengkulu, berbagi pengalamannya enam bulan bertugas, menyatakan betah dan melihat perubahan karakter anak secara bertahap. Ia juga menanyakan dukungan bagi siswa yang bercita-cita menjadi anggota TNI atau Polri. Gus Ipul menyambut baik cita-cita tersebut dan menyatakan akan mendukung penguatan kedisiplinan, fisik, dan akademik siswa agar memenuhi persyaratan.
Meskipun demikian, Gus Ipul mengingatkan pentingnya wali asuh dan wali asrama untuk tetap memahami minat dan bakat masing-masing anak, serta tidak memaksakan satu pilihan masa depan. Ia menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat saat ini menjangkau sekitar 44 ribu siswa di 182 titik di seluruh Indonesia. Sebagai sekolah berasrama, pembelajaran tidak hanya terbatas pada kegiatan akademik, tetapi juga mencakup pendidikan karakter yang dibimbing oleh wali asuh dan wali asrama. “Sekolah ini adalah sekolah berasrama, boarding school. Jadi ada sekolahnya, ada pendidikan karakternya. Pada saat sekolah dibimbing oleh guru, pada saat di asrama dia dibimbing oleh wali asuh dan wali asrama untuk pendidikan karakternya,” jelas Gus Ipul.
Karakteristik siswa Sekolah Rakyat yang beragam, karena penerimaan tidak berbasis tes akademik melainkan kondisi sosial ekonomi keluarga, menjadikan peran guru, wali asuh, dan wali asrama sangat krusial dalam membantu adaptasi dan proses pembelajaran. Gus Ipul mengamati bahwa siswa yang telah lebih dari satu tahun di Sekolah Rakyat menunjukkan peningkatan kebugaran fisik, perkembangan mental yang baik, serta peningkatan kepercayaan diri dan optimisme dalam menghadapi masa depan. Usai memberikan arahan, Gus Ipul meninjau pameran karya siswa Sekolah Rakyat yang meliputi lukisan, crochet, hingga gantungan kunci.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, mengimbau para wali asuh dan wali asrama di Sekolah Rakyat untuk senantiasa menjadi teladan dan kompas moral bagi para siswa. Ia menekankan bahwa keberhasilan pendidikan berasrama tidak semata-mata bergantung pada pengajaran di kelas, melainkan juga pada kedisiplinan dan pendampingan yang diberikan di lingkungan asrama.
“Keberhasilan penyelenggaraan Sekolah Rakyat salah satunya ditentukan oleh seberapa jauh wali asrama bekerja, melakukan pendampingan, bimbingan, pengasuhan kepada siswa-siswa Sekolah Rakyat,” ujar Gus Ipul dalam keterangan tertulisnya, Kamis (8/10/2026). Ia menambahkan, “Saudara-saudaralah yang bertemu setiap hari siswa-siswa Sekolah Rakyat. Saudara-saudaralah yang tiap hari mengetahui perkembangan siswa Sekolah Rakyat.” Pernyataan ini disampaikan saat Gus Ipul mengunjungi Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Padang, Sumatera Barat, pada Rabu (7/10).
Gus Ipul menjelaskan bahwa peran wali asuh dan wali asrama lebih dari sekadar menjalankan rutinitas harian. Mereka diharapkan mampu menjadi pembimbing, teladan, sekaligus figur orang tua bagi anak-anak selama berada di Sekolah Rakyat. “Jadilah kompas moral, jadilah teladan, jadi pembimbing, jadi orang tua dari siswa-siswa Sekolah Rakyat yang sebagian punya masalah besar, sebagian lagi perlu bimbingan,” tegasnya. Ia juga berpesan agar para wali bekerja dengan sungguh-sungguh, totalitas, empati, dan penuh tanggung jawab, serta saling mengingatkan dan mengawasi.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Ipul mengajak dua siswa SRMP 4 Padang naik ke panggung untuk berbincang mengenai keluarga, pengalaman sebelum masuk Sekolah Rakyat, kehidupan di asrama, hingga cita-cita mereka. Siswa pertama, Muhammad Habib Munthe, yang berasal dari keluarga kurang mampu, mengungkapkan bahwa setahun di Sekolah Rakyat membuatnya lebih percaya diri. “Kalau sebelumnya masuk di Sekolah Rakyat sih, Bapak, cuma dengan bimbingan guru-guru serta tenaga kependidikan yang di SRMP 4 Padang, saya lebih percaya diri untuk tampil ke depannya,” ujarnya, seraya bercita-cita menjadi diplomat. Ia merasa sangat terbantu oleh dukungan guru dan tenaga kependidikan.
Siswa kedua, Erziza Febriani Chaniago, juga berasal dari keluarga dengan kondisi serupa. Awalnya ia merasa ragu untuk melanjutkan sekolah, namun kini ia aktif dalam kegiatan menari dan olahraga atletik. “Awalnya itu saya merasa tidak percaya diri dan saya tidak merasa akan bisa lanjut sekolah. Jadi, saya ragu atas apakah saya bisa lanjut sekolah, apakah saya bisa menjadi orang ke depannya,” ungkap Erziza. Ia menambahkan, “Dan atas program Bapak Presiden Prabowo ini, saya sangat senang atas Sekolah Rakyat karena saya bisa berprestasi, berkreasi di sini.” Gus Ipul menggunakan cerita kedua siswa ini untuk menekankan bahwa perubahan pada anak tidak hanya datang dari fasilitas, tetapi juga dari pendampingan intensif oleh orang-orang di sekitar mereka.
Gus Ipul juga menegaskan tiga larangan keras di lingkungan Sekolah Rakyat: perundungan, kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi. “Jangan lakukan tiga hal. Ini dosa besar di dunia pendidikan. Jangan lakukan perundungan, bullying. Jangan lakukan kekerasan fisik maupun seksual. Dan yang ketiga, jangan lakukan intoleransi,” tegasnya. Ia meminta seluruh elemen Sekolah Rakyat untuk saling mengawasi dan melaporkan jika menemukan pelanggaran, dengan jaminan kerahasiaan identitas pelapor. “Saya tidak ingin menandatangani untuk memberhentikan para tenaga kependidikan Sekolah Rakyat. Tapi justru sebaliknya, saya ingin menandatangani prestasi-prestasi yang ditorehkan oleh seluruh pemangku kepentingan Sekolah Rakyat,” katanya.
Sesi arahan berjalan dua arah, di mana para peserta diberi kesempatan menyampaikan pengalaman dan persoalan. Ayub Saputra, wali asuh SRT 3 Provinsi Bengkulu, berbagi pengalamannya enam bulan bertugas, menyatakan betah dan melihat perubahan karakter anak secara bertahap. Ia juga menanyakan dukungan bagi siswa yang bercita-cita menjadi anggota TNI atau Polri. Gus Ipul menyambut baik cita-cita tersebut dan menyatakan akan mendukung penguatan kedisiplinan, fisik, dan akademik siswa agar memenuhi persyaratan.
Meskipun demikian, Gus Ipul mengingatkan pentingnya wali asuh dan wali asrama untuk tetap memahami minat dan bakat masing-masing anak, serta tidak memaksakan satu pilihan masa depan. Ia menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat saat ini menjangkau sekitar 44 ribu siswa di 182 titik di seluruh Indonesia. Sebagai sekolah berasrama, pembelajaran tidak hanya terbatas pada kegiatan akademik, tetapi juga mencakup pendidikan karakter yang dibimbing oleh wali asuh dan wali asrama. “Sekolah ini adalah sekolah berasrama, boarding school. Jadi ada sekolahnya, ada pendidikan karakternya. Pada saat sekolah dibimbing oleh guru, pada saat di asrama dia dibimbing oleh wali asuh dan wali asrama untuk pendidikan karakternya,” jelas Gus Ipul.
Karakteristik siswa Sekolah Rakyat yang beragam, karena penerimaan tidak berbasis tes akademik melainkan kondisi sosial ekonomi keluarga, menjadikan peran guru, wali asuh, dan wali asrama sangat krusial dalam membantu adaptasi dan proses pembelajaran. Gus Ipul mengamati bahwa siswa yang telah lebih dari satu tahun di Sekolah Rakyat menunjukkan peningkatan kebugaran fisik, perkembangan mental yang baik, serta peningkatan kepercayaan diri dan optimisme dalam menghadapi masa depan. Usai memberikan arahan, Gus Ipul meninjau pameran karya siswa Sekolah Rakyat yang meliputi lukisan, crochet, hingga gantungan kunci. Turut hadir dalam acara tersebut Senior Eksekutif Universitas Negeri Padang Ganefri, Staf Ahli Gubernur Bidang Pembangunan, Kemasyarakatan, dan SDM Pemerintah Provinsi Sumatera Barat Nizam Ul Muluk, Kepala BBPPKS Padang Wildan Humaedi, Kepala SRMP 4 Padang Azizah Batubara, serta jajaran Staf Khusus Menteri dan Tenaga Ahli Menteri Sosial.