Kementrans Tertarik Kembangkan Wisata Kawasan Transmigrasi ala Kota Air Wuzhen

Delegasi dari Kementerian Transmigrasi (Kementrans) melakukan kunjungan ke kota air kuno Wuzhen Scenic Area di Provinsi Zhejiang, China, untuk mempelajari strategi pengembangan pariwisata. Kunjungan ini bertujuan untuk menggali potensi serupa di wilayah transmigrasi Indonesia agar dapat menarik minat wisatawan.

Setibanya di Wuzhen Scenic Area pada Sabtu (17/10/2026), rombongan Kementrans disambut oleh pengelola tempat wisata. Kunjungan diawali dengan peninjauan Wuzhen International Internet Exhibition and Convention Center, yang rutin menjadi lokasi konferensi internet dunia.

Selanjutnya, delegasi diajak berkeliling kota air kuno yang memukau dengan bangunan-bangunan tradisional China berderet di sepanjang kanal-kanal kecil. Terdapat 72 jembatan yang menghiasi kawasan tersebut, menambah keindahan arsitektur tradisionalnya.

Dalam kesempatan itu, delegasi juga berkesempatan menyaksikan proses pembuatan kain sutra China yang diperagakan oleh warga lokal. Kunjungan ini dipimpin oleh Staf Khusus Menteri Bidang Transformasi Digital, Yoyo Budianto.

Yoyo Budianto menjelaskan bahwa Wuzhen memiliki kesamaan dengan Davos di Swiss, namun dengan fokus khusus pada industri internet. “Jadi tiap tahun di Wuzhen ini ada konferensi internet dunia yang dihadiri oleh ratusan negara di dunia yang dimulai sejak tahun 2014,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa Wuzhen dulunya merupakan daerah miskin sebelum akhirnya dikembangkan menjadi salah satu destinasi wisata terpopuler di dunia. “Daerahnya itu direvitalisasi,” kata Yoyo, mengacu pada proses revitalisasi yang dimulai sekitar tahun 1999 atau 2000.

Meskipun telah direvitalisasi, bangunan-bangunan lama tetap dipertahankan dan dihidupkan kembali, menarik kedatangan turis. Masyarakat lokal masih mendiami bangunan tersebut dan turut merasakan manfaat ekonomi dari geliat pariwisata. “Masyarakat di sini mendapatkan keuntungan secara ekonomi sehingga masyarakatnya juga maju,” ucap Yoyo.

Setiap tahunnya, Wuzhen Scenic Area dikunjungi oleh sekitar 4 juta wisatawan. Kementrans berencana mengadaptasi model pengembangan Wuzhen untuk kawasan transmigrasi di Indonesia, seperti Rempang atau wilayah di Papua. “Ini yang ingin coba kami pelajari untuk dicoba diimplementasikan di kawasan transmigrasi,” ujarnya.

Yoyo berharap penerapan ini dapat mengubah persepsi transmigrasi yang selama ini identik dengan pertanian. “Sehingga transmigrasi sekarang bukan lagi hanya soal pertanian, tetapi juga bisa untuk tourism atau pariwisata. Dengan begitu, kebudayaan lokal bukan hanya kita lestarikan, tetapi juga bisa menghidupkan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya.

Untuk menggali potensi tersebut, Kementrans telah menurunkan 246 tim riset yang terdiri dari 1.476 orang dari 10 kampus terbaik di Indonesia. Tim ini akan melakukan penelitian mendalam di 53 kawasan transmigrasi dan memberikan pendampingan kepada masyarakat. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi potensi pariwisata yang dapat dikembangkan dan dimajukan, sekaligus memberdayakan masyarakat setempat.

Tinggalkan komentar