Jakarta – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyatakan keprihatinan mendalam atas insiden tragis meninggalnya Aqib (7), siswa kelas 2 SDN 1 Kebondalem, Pemalang. Aqib diduga menjadi korban perundungan oleh kakak kelasnya.
Abdul Mu’ti memastikan bahwa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Inspektorat Jenderal dan Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Tengah, telah melakukan investigasi. “Masalahnya juga sedang ditangani pihak berwajib,” ujar Abdul saat dihubungi, Jumat (9/10/2026).
Ia menekankan pentingnya kerja sama semua pihak untuk menghentikan fenomena perundungan yang terus berulang di lingkungan sekolah. “Kami sangat prihatin dengan perundungan yang terus berulang, kami mohon dukungan semua pihak untuk saling bekerja sama membangun budaya ramah dan santun, para guru, kepala sekolah, dinas pendidikan, dan orang tua untuk melaksanakan budaya sekolah aman dan aman dengan sebaik-baiknya,” tuturnya.
Abdul menegaskan bahwa penyelesaian masalah kekerasan, terlebih yang berujung pada kematian, tidak dapat diselesaikan hanya dengan memberikan santunan. Ia mengimbau para orang tua untuk meningkatkan perhatian kepada anak-anak mereka, khususnya terkait pengaruh gawai dan media sosial. “Banyak kekerasan bermula dari pengaruh tayangan media online dan media sosial,” tegasnya.
Sebelumnya, Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pemalang mengonfirmasi keterlibatan dua siswa yang merupakan kakak kelas dalam aksi kekerasan terhadap korban. Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (12/9) sekitar pukul 09.00 WIB, saat jam istirahat sekolah.
Korban sempat menjalani perawatan intensif selama sembilan hari di rumah sakit. Meskipun diizinkan pulang, kondisi Aqib terus menurun hingga ia tidak dapat berjalan akibat keluhan sakit di sekujur tubuh. Tiga hari setelah berada di rumah, kondisi korban kembali memburuk. Pada Rabu (30/9), saat keluarga berencana membawanya kembali ke rumah sakit, Aqib dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan.