Inflasi Jakarta Terkendali di Bawah Angka Nasional, Pemprov Fokus Jaga Harga Kebutuhan Pokok

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyatakan bahwa inflasi di wilayah ibu kota berhasil dikendalikan dalam rentang 2,5% hingga 2,71%. Angka ini tercatat lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,28%. Ia menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk memastikan harga kebutuhan pokok masyarakat tetap terjangkau.

Pernyataan ini disampaikan Anies dalam sesi konferensi pers mengenai realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta untuk triwulan III tahun 2026 yang diselenggarakan di Balai Kota Jakarta pada Rabu (21/10/2026).

“Hal yang berkaitan dengan inflasi, alhamdulillah inflasi di Jakarta ter-manage dengan baik. Kita di angka kisaran antara 2,5% sampai dengan 2,71%. Di bawah inflasi nasional yaitu 3,28%,” ujar Anies.

Anies menjelaskan bahwa Pemprov DKI telah menerapkan sejumlah strategi untuk menjaga inflasi tetap stabil. Salah satu fokus utama adalah pemantauan ketat terhadap keterjangkauan harga berbagai komoditas agar tetap dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Yang pertama adalah bagaimana kita memonitor tentang keterjangkauan harga. Sehingga dengan demikian masalah harga ini menjadi nomor satu,” jelasnya.

Selain aspek pemantauan harga, Pemprov DKI juga aktif berupaya memastikan ketersediaan pasokan pangan yang memadai. Anies menyebutkan bahwa PT Dharma Jaya kini telah mendapatkan izin untuk mengelola stok sapi, sebuah langkah yang sebelumnya belum pernah dipertimbangkan. Lebih lanjut, Pemprov DKI tengah menyiapkan pengembangan fasilitas di kawasan Ciangir untuk mendukung upaya pengadaan dan pengelolaan stok pangan tersebut.

“Kita juga memberikan kemudahan dalam hal penyediaan stok, termasuk Dharma Jaya yang dulu nggak pernah dipikirkan untuk mempunyai stok sapi sekarang diizinkan, bahkan di Ciangir sekarang ini kita siapkan untuk mengembangkan itu,” paparnya.

Kelancaran dalam rantai distribusi barang juga diakui Anies sebagai faktor krusial dalam menjaga stabilitas inflasi. Ia mencontohkan pengalaman pasokan daging menjelang Idul Fitri dan Idul Adha. Ketersediaan daging yang baik di Jakarta pada periode tersebut dinilai berkontribusi signifikan dalam menahan laju kenaikan inflasi, khususnya yang berkaitan dengan komoditas daging.

“Yang kedua adalah kelancaran distribusi. Hal itu terbukti sebagai contoh untuk urusan daging. Baik Idul Fitri maupun Idul Adha kemarin karena daging di Jakarta tersedia dengan baik, maka faktor kenaikan inflasi di Jakarta hampir tidak ada yang berkaitan dengan daging,” ungkapnya.

Meskipun demikian, Anies mengakui bahwa masih ada beberapa komoditas pangan yang memerlukan perhatian lebih lanjut. Cabai keriting diidentifikasi sebagai salah satu komoditas yang masih menunjukkan fluktuasi harga. Beras juga disebut masih memberikan pengaruh terhadap inflasi, meskipun kontribusinya relatif kecil.

“Yang saya kaget yang berkaitan dengan cabai masih ada, cabai keriting. Ya beras masih ada tapi sedikit,” tutupnya.

Tinggalkan komentar