Hoax Tsunami 60 Meter dari Anak Krakatau, Badan Geologi Pastikan Status Waspada

JAKARTA – Badan Geologi secara tegas membantah informasi yang beredar di media sosial mengenai ancaman tsunami setinggi 60 meter akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Narasi tersebut dipastikan tidak benar atau merupakan berita bohong (hoax).

Informasi yang menyebar melalui platform TikTok tersebut dikonfirmasi sebagai tidak benar oleh Badan Geologi melalui akun media sosialnya. “Menyikapi informasi yang beredar di media sosial TikTok mengenai potensi tsunami setinggi 60 meter akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, Badan Geologi mengonfirmasi bahwa narasi tersebut adalah tidak benar (hoax),” tulis Badan Geologi.

Pihak Badan Geologi menjelaskan bahwa memang terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau pada tanggal 5 Oktober 2026, pukul 20.28 WIB. Erupsi tersebut tercatat memiliki amplitudo maksimum 33 mm dengan durasi sekitar 1 menit 1 detik, namun tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Saat ini, Gunung Anak Krakatau berada pada Status Level II atau Waspada. Status ini jauh berbeda dari narasi isu tsunami 60 meter yang beredar. “Gunung Anak Krakatau berada pada Status Level II (Waspada), bukan dalam kondisi seperti yang dinarasikan dalam isu tsunami 60 meter tersebut,” tegasnya.

Meskipun demikian, masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki tetap diimbau untuk berhati-hati. “Masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki dihimbau untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah aktif,” imbau Badan Geologi.

Lebih lanjut, Badan Geologi menjelaskan bahwa unggahan yang disebarkan oleh akun bernama ‘XinShi’ tersebut merupakan hasil penyuntingan dari konten asli milik Badan Geologi. Status terkini Gunung Anak Krakatau adalah Waspada dengan rekomendasi jarak aman minimum 2 kilometer dari kawah aktif.

Badan Geologi mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dan tidak mudah memercayai isu atau ramalan kebencanaan yang tidak didasarkan pada data ilmiah yang valid. “Masyarakat diimbau untuk selalu waspada serta tidak memercayai isu atau ramalan kebencanaan yang tidak berbasis data ilmiah,” tutupnya.

Tinggalkan komentar