JAKARTA – Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa partai berlambang pohon beringin ini tidak didirikan semata-mata untuk mengantarkan ketua umumnya menjadi presiden atau wakil presiden. Menurutnya, Golkar lahir sebagai instrumen politik negara untuk mewujudkan cita-cita bangsa.
“Partai Golkar itu lahir bukan hanya semata-mata untuk menjadikan ketua umum jadi presiden sama wapres. Tapi Partai Golkar ini lahir untuk menjadi instrumen politik negara dalam mewujudkan cita-cita negara,” ujar Bahlil di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, pada Selasa (20/10/2026). Pernyataan ini disampaikan Bahlil saat ditanya mengenai peluang Golkar mendampingi Prabowo Subianto pada Pilpres 2029.
Bahlil menjelaskan bahwa cita-cita negara yang dimaksud adalah terwujudnya keadilan sosial dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia, yang ia sebut sebagai bagian dari doktrin Golkar.
“Untuk apa? Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, kesejahteraan, pendidikan, dan macam-macam. Itu maksud saya. Apa tujuannya Partai Golkar? Ya naikkan kursi. Itu doktrinnya,” jelasnya.
Ia juga memaparkan rekam jejak kepemimpinan Golkar, menyebutkan bahwa sejak Pemilu 1971, belum pernah ada ketua umum Golkar yang berhasil menjadi presiden. Satu-satunya ketua umum Golkar yang pernah menduduki jabatan wakil presiden adalah Soedharmono, yang menjabat posisi tersebut setelah sebelumnya memegang tampuk kepemimpinan partai.
“Pemilu tahun 71, belum pernah ada ketua umumnya yang menjadi presiden. Dan satu-satunya Ketua Umum Partai Golkar yang jadi ketua umum dulu baru jadi wapres adalah Pak Sudarmono,” ungkap Bahlil.
Bahlil menambahkan bahwa Golkar sejatinya didirikan untuk berfungsi sebagai penyeimbang dalam lanskap politik. Meskipun terjadi reformasi dan Golkar bertransformasi menjadi partai politik pada Pemilu 1999, tujuan fundamental partai untuk memperjuangkan kesejahteraan masyarakat tetap dipertahankan.
“Partai Golkar partai yang sejak sebelum kami lahir, didirikan untuk menjadi golongan penyeimbang dari partai politik sebenarnya dulunya. Tapi pemilu 99 reformasi harus menjadi partai politik, tapi doktrinnya, tujuannya nggak berubah, menjadi politik kesejahteraan,” tutupnya.