Gerakan Nasional Anti Narkoba (Ganas Annar) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat memberikan apresiasi atas instruksi Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto kepada jajarannya untuk menggelar operasi pemberantasan narkoba secara serentak di seluruh Indonesia. Ketua Ganas Annar MUI Pusat, Noor Sidharta, menyatakan harapan agar upaya pemberantasan narkoba ke depan dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.
“Kami dari Gerakan Nasional Anti Narkoba (Ganas Annar) MUI Pusat menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap langkah awal Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto dalam memperkuat pemberantasan narkoba, termasuk antara lain penindakan di Kampung Ambon dan di beberapa tempat lain yang dikenal sebagai tempat atau sarang peredaran narkoba,” kata Sidharta kepada wartawan, Minggu (11/10/2026).
Sidharta meyakini rekam jejak Jenderal Suyudi sebagai mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) akan membawa dampak positif. Ia menegaskan bahwa operasi pemberantasan narkoba yang dilakukan Polri ini sejalan dengan arahan prioritas nasional dari Presiden Prabowo Subianto.
“Kami berharap pemberantasan narkoba semakin terarah, tegas, sistematis, dan berkelanjutan. Kami gembira beliau yang ditunjuk sebagai Kapolri, apalagi sebagai Kepala BNN beliau beberapa kali meminta menghentikan peredaran vape yang merupakan salah satu media peredaran narkoba cair yang digunakan untuk mengisi cartridge vape,” ujar Sidharta.
“Langkah ini Alhamdulillah juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pemberantasan narkoba sebagai salah satu prioritas nasional,” tambahnya.
Meskipun demikian, Sidharta menekankan bahwa pemberantasan narkoba tidak cukup hanya mengandalkan penindakan. Diperlukan strategi komprehensif yang mencakup pencegahan pemakaian, pemutusan jaringan peredaran, penelusuran dan penyitaan aset bandar, rehabilitasi korban penyalahgunaan, serta penguatan edukasi dan pencegahan berbasis keluarga, pendidikan, dan masyarakat.
“Apalagi kami melihat narkoba saat ini bahkan diperkenalkan sebagai obat kuat, obat anti ngantuk dan lain-lain sehingga masyarakat awam mau memakai karena tidak menganggap narkoba tersebut adalah bahan haram atau narkotika,” ujar Sidharta.
“Itu salah satu yang membuat peredaran narkoba sedemikian marak bahkan sampai ke tempat-tempat lembaga keagamaan seperti pesantren, vihara, gereja dan lain-lain. Konsumen juga sangat beragam, dari pekerja kasar seperti kuli panggul, pegawai kapal ikan yang harus berlayar berhari-hari, supir angkutan antar kota dan lain-lain. Harapan kami, kepemimpinan Kapolri yang baru mampu menghadirkan pemberantasan narkoba yang tidak hanya tegas dalam penegakan hukum, tetapi juga terukur hasilnya dalam menyelamatkan generasi bangsa,” ungkapnya.
Sidharta juga membandingkan tantangan pemberantasan narkoba dengan situasi di negara lain, seperti Amerika Serikat yang dikatakannya juga kewalahan karena pengaruh uang haram narkotika yang bisa mencapai oknum senator. Ia juga menyinggung potensi bocornya senjata dari negara superpower ke kartel narkoba.
“USA sebagai negara superpower saja kewalahan memberantas, antara lain karena uang mereka sampai ke misal oknum-oknum senator di negara-negara bagian strategis. Meksiko, kita tahu mereka bisa mempunyai alat perang yang setara militer pemerintah mereka, bahkan menurut informasi yg saya peroleh, senjata yang dikirim amerika ke Ukraina misalnya, bocor sampai ke kartel-kartel di sana. Sistem jaringan ini membuat para pelaku utama atau bandar besarnya sangat sulit ditangkap,” ujar dia.
Sebelumnya, Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri telah melakukan penggerebekan narkoba di sejumlah wilayah di Indonesia pada Jumat (9/10). Operasi ini melibatkan personel gabungan dari Direktorat Tindak Pidana Bareskrim Polri, Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya, BNN, TNI, hingga Satpol PP.
Penggerebekan dipimpin oleh Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri Brigjen Kristian Siagian dan Dirnarkoba Polda Metro Jaya Kombes Bismo Teguh Prakoso. “Saat ini operasi kami lakukan di seluruh Indonesia. Serentak, arahan Presiden kepada Kapolri sudah jelas, kami maknai dan kami tidak akan tidur. Kami tidak akan tidur, masyarakat di hati kami. Kami akan berantas mata rantai narkoba,” ujar Kristian di Kampung Ambon, Jakarta Barat.
Kristian menambahkan bahwa operasi ini dilakukan bekerja sama dengan masyarakat sekitar untuk memutus mata rantai peredaran narkoba. Sementara itu, Kombes Bismo Teguh Prakoso melaporkan bahwa di Jakarta, operasi penggerebekan sarang narkoba dilakukan di dua lokasi, yaitu Kampung Boncos dan Kampung Ambon, dengan mengerahkan sekitar 700 personel gabungan.
“Pada pagi hari tadi kami melaksanakan operasi secara simultan di dua titik, yaitu di Kampung Boncos dan juga di Kampung Ambon dengan kekuatan 700 personel, yaitu dari Brimob, Dalmas, dari Narkoba baik Polda, Mabes Polri, maupun Polres, kemudian dari TNI,” kata Bismo.
Dalam penggerebekan tersebut, total 24 orang ditangkap, terdiri dari 8 orang di Kampung Boncos dan sisanya dari Kampung Ambon. Para terduga kini sedang dalam proses penyelidikan lebih lanjut.