Budaya Papua Diintegrasikan ke Kurikulum Sekolah Manokwari

Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (Unair) telah merancang sebuah modul pembelajaran inovatif yang mengintegrasikan budaya, kearifan lokal, dan adat Papua ke dalam kurikulum sekolah di Manokwari. Modul ini dirancang secara khusus agar materi pelajaran menjadi lebih dekat dan akrab dengan kehidupan sehari-hari para siswa, meliputi lingkungan tempat tinggal, kebiasaan keluarga, permainan tradisional, hingga cerita rakyat.

Pendekatan ini mendapat sambutan positif dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Manokwari, Parjiyanti. Ia menekankan pentingnya kemajuan pendidikan yang berjalan selaras dengan pelestarian kearifan lokal. “Saya percaya Tim Ekspedisi Patriot juga bersama-sama bekerja dengan kita untuk menghasilkan satu modul ajar yang nantinya menjadi pedoman dan praktik baik yang bisa kita ambil. Kearifan lokal ini akan mendorong kita untuk maju. Perkembangan zaman bukan mendorong kita untuk melupakan kearifan lokal, tetapi keduanya berjalan seiring,” ujar Parjiyanti dalam keterangan tertulisnya.

Parjiyanti berharap metode pembelajaran baru ini dapat membentuk generasi muda Manokwari yang cerdas, berkarakter, dan tetap memegang teguh nilai-nilai budaya daerah. Penyusunan modul ini berangkat dari identifikasi kebutuhan sekolah, termasuk perbedaan kemampuan literasi antar siswa dan keterbatasan ketersediaan bahan ajar yang relevan.

Koordinator Tim 7 TEP Unair, Imam Gazi, menjelaskan bahwa rancangan materi modul sangat mempertimbangkan kondisi riil di lapangan. “Materi disusun dekat dengan realitas kehidupan murid untuk menjawab ketimpangan literasi lintas fase dan keterbatasan buku ajar,” tutur Imam. Materi yang diangkat mencakup beragam unsur kehidupan masyarakat setempat, mulai dari bahasa, cerita rakyat, permainan tradisional, pengetahuan lokal, kesenian, hingga adat dan kebiasaan sehari-hari. Sebagai contoh, aktivitas keluarga di kebun atau makanan khas yang familiar bagi anak-anak dapat dijadikan titik awal untuk mengenalkan konsep-konsep pelajaran sekolah.

Proses penyusunan modul ini juga melibatkan partisipasi aktif dari para tenaga pendidik dan pemangku kepentingan lainnya melalui diskusi kelompok yang diselenggarakan pada 29 September 2026. Masukan yang diperoleh dari para peserta menjadi bahan krusial untuk menyesuaikan materi agar sesuai dengan kebutuhan spesifik sekolah dan karakteristik unik dari para siswa.

Upaya ini sejalan dengan komitmen pemerintah terhadap peningkatan kualitas pendidikan nasional. Presiden Prabowo Subianto pernah menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi fundamental bagi kemajuan bangsa. “Tidak mungkin kita menjadi negara sejahtera, tidak mungkin kita menjadi negara maju, kalau pendidikan kita tidak baik, pendidikan kita tidak berhasil,” ucap Prabowo dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun lalu.

Di wilayah Papua, perhatian terhadap akses dan mutu pendidikan menjadi prioritas dalam upaya pembangunan sumber daya manusia. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menekankan peran krusial negara dalam menjamin kesempatan pendidikan bagi seluruh anak. “Pendidikan itu sangat mendasar. Ketika keluarga kurang mampu tidak memiliki kapasitas untuk menyekolahkan putra-putrinya, maka negara harus hadir, pemerintah hadir,” ungkap AHY.

Sementara itu, Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, menyoroti pentingnya mengukur keberhasilan Tim Ekspedisi Patriot melalui dampak nyata yang dirasakan masyarakat. “Yang paling penting adalah seberapa besar dampak yang dihasilkan. Ukurannya bukan berapa banyak peserta yang kita kirim, tetapi perubahan nyata yang kita tinggalkan bagi masyarakat,” pungkas Iftitah.

Tahap selanjutnya, TEP Unair berencana untuk menguji coba penerapan modul ini dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Tim akan secara cermat mengamati perkembangan kemampuan siswa dan mengumpulkan umpan balik dari para guru untuk penyempurnaan lebih lanjut. Melalui siklus penyusunan dan pengujian modul ini, TEP Unair berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendukung proses pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan anak serta memperkuat kemampuan literasi di kawasan transmigrasi Prafi.

Tinggalkan komentar