Bocah 7 Tahun di Pemalang Meninggal, Diduga Korban Perundungan, Sempat Tunjuk Foto Pelaku

PEMALANG – Seorang bocah berusia 7 tahun berinisial Aqib, warga Kebondalem, Pemalang, Jawa Tengah, dilaporkan meninggal dunia setelah diduga menjadi korban perundungan atau bullying. Sebelum meninggal, Aqib sempat memberikan petunjuk mengenai para terduga pelaku.

Menurut ayah korban, Nurwandi, putranya sempat memberitahukan siapa saja yang memukulnya sebelum meninggal. “Anak saya itu sebelum meninggal sudah ngomong siapa-siapa yang mukul dia, dilihatin foto terus dia nunjuk. Ada tiga anak, yang dua kelas 5 dan satu kelas 6,” ungkap Nurwandi di rumah duka, Kamis (1/2/2026), seperti dilansir detikJateng.

Nurwandi menambahkan bahwa ia telah mencoba meminta kejelasan dari pihak sekolah, namun hingga kini belum mendapatkan hasil yang memuaskan. Korban, yang merupakan murid Kelas 2 SDN 1 Kebondalem, sempat menjalani perawatan di RSUD M Azhari selama sembilan hari sejak Kamis (17/9). Setelah sempat pulang ke rumah selama tiga hari, Aqib meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju rumah sakit pada Rabu (30/9) sore.

Ibu korban, Diah Indriyanti (36), menceritakan perubahan drastis pada putranya selama sakit. Aqib yang biasanya periang dan lahap makan, berubah menjadi pendiam. Perundungan yang dialaminya bahkan sempat diceritakan kepada dokter yang merawatnya.

“Cuma saya merasa udah beda dari pola makan sama pola setiap hari. Anak itu biasanya ceria tapi berubah, pendiam,” ujar Diah. Ia menambahkan, “Dia baru bercerita itu setelah diperiksa sama dokter, baru dia cerita.”

Meskipun demikian, Diah mengaku hanya mendapatkan sedikit cerita dari anaknya. Ia hanya mengetahui bahwa penganiayaan terjadi pada jam istirahat sekolah, namun tidak mengetahui pasti hari dan tanggal kejadiannya. “Dipukul perut, ada yang menendang pakai sepatu. Dan itu pun saya pertama enggak… enggak tahu kalau anak itu udah dipukul. Saya baru tahu itu kemarin-kemarin,” tuturnya.

Diah menuturkan, terdapat luka memar berwarna biru kehitaman di perut dan kaki putranya. “Memar di perut dan kaki, warna biru-biru lebam,” katanya. Selama tiga hari di rumah setelah keluar dari rumah sakit, Aqib terus mengeluhkan sakit pada perutnya dan merasa kesulitan untuk berjalan.

“Kalau diangkat juga mengeluh sakit,” imbuh Diah, menggambarkan kondisi anaknya yang semakin memburuk.

Tinggalkan komentar