Akses Rumah Pasutri Lansia di Jaktim Terhalang Tembok Tetangga, Mediasi Belum Berhasil

Jakarta – Akses jalan masuk ke rumah pasangan suami istri lanjut usia (lansia), Wifatmi atau Wiwi dan Sukirdjo, di Cipinang Melayu, Jakarta Timur, kini tertutup total oleh bangunan tetangga. Pasangan ini tidak memiliki akses jalan sama sekali untuk keluar masuk kediaman mereka.

Pantauan di lokasi pada Jumat (16/10/2026) menunjukkan rumah Sukirdjo berada di sebuah gang RT 4, RW 2, berjarak sekitar 100 meter dari Jalan Raya Kalimalang. Pintu rumah Sukirdjo terlihat terpasang tralis, dan sekitar dua meter di depannya terdapat pondasi cakar ayam untuk bangunan baru.

Lokasi yang tadinya merupakan jalan setapak selebar sekitar satu meter itu kini dipenuhi pondasi yang akan dilapisi bata ringan. Akibatnya, Sukirdjo dan keluarganya harus melewati jalan tersebut dengan susah payah. Mereka terpaksa melompati pondasi cakar ayam yang tingginya hampir 50 sentimeter.

Permukaan jalan yang tidak rata akibat material bangunan seperti bambu, bata, dan besi semakin menambah rintangan saat keluarga Sukirdjo hendak keluar masuk rumah.

Wiwi, yang tinggal bersama suami dan dua cucunya, telah menempati rumah tersebut sejak tahun 1985. “Udah di sini, udah berapa puluh tahun nih saya. Udah hampir 60 tahun,” ujar Wiwi saat ditemui di rumahnya.

Sukirdjo menceritakan bahwa awalnya lokasi tersebut adalah tanah kosong dan sebuah warung. Di sampingnya terdapat jalan setapak yang menjadi akses ke rumahnya dan tanah kosong tersebut. Pemilik tanah terdahulu disebut telah memberikan lahannya sebagai akses melalui sebuah perjanjian dan bahkan memberikan sejumlah uang sebagai tanda kesepakatan.

Namun, perjanjian tersebut kini dianggap tidak cukup kuat untuk mempertahankan jalan setapak tersebut. “Karena yang punya rumah ini pun lewatnya itu. Cuman untuk memperkuat, kita bikin kayak surat perjanjian gitu, takut ada sesuatu hal yang enggak diinginkan gitu. Cuman itu tadi, setelah kemari-kemari ya itu seperti itu. Artinya kayaknya enggak berlaku nih surat ini gitu. Padahal ada cap jempol dua ibu itu, terus saksi ada, RT ada,” jelas Sukirdjo.

Wiwi berharap ada jalan keluar setelah mediasi. Ia ingin jalan setapak tersebut kembali seperti semula. “Ya pengen jalan itu, kayak semula aja udah, jalan, udah gitu. Dia mempermasalahkan saya bikin dapur di situ. Kalau dia minta roboh, saya robohin dapur, enggak apa-apa. Katanya saya bikin dapur di situ buat saya ngopi-ngopi. Ya Allah Mas, buat jalan aja susah,” keluh Wiwi.

Wiwi bahkan pernah mencoba bernegosiasi untuk membeli sebagian tanah tersebut demi akses jalan. “Dia kan datang ke sini tuh berdua sama kakaknya. ‘Nek, maaf mau bangun’ katanya. ‘Mau ini.’ ‘Ya udah sih kalau kamu mau bangun, yang penting saya kasih jalan. Kalau kamu enggak kasih jalan, saya beli deh,’ saya bilang gitu. Enggak ada respon,” ungkapnya.

Pada hari mediasi, Sukirdjo dan pihak pemilik tanah melakukan pertemuan bersama pihak Kelurahan, RT, RW, hingga tokoh masyarakat. Namun, belum ada titik temu yang memuaskan.

Dalam mediasi tersebut, sempat muncul ide untuk membuat akses jalan ke arah belakang rumah Sukirdjo. Sayangnya, lokasi tersebut juga merupakan milik tetangga lain yang tidak berkenan untuk dijadikan jalan. “Permintaannya katanya ada alternatif ke belakang. Terus udah dilihat, kita minta izin, Pak Lurah sendiri yang minta izin ke yang punya, enggak dikasih. Udah, dia katanya udah rembukan sama kakak-kakaknya tujuh orang katanya, enggak dikasih katanya, mau dibangun,” tutur Wiwi.

Tinggalkan komentar