Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di berbagai wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Hingga kini, total kasus ISPA di area terdampak karhutla telah mencapai 333.470 kasus.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Then Suyanti, menjelaskan bahwa dari jumlah tersebut, terdapat 4.522 kasus harian. Angka ini mencakup 75.172 kasus pada balita (di bawah 5 tahun) dan 258.298 kasus pada kelompok usia di atas 5 tahun.
Menurut Then Suyanti, kenaikan kasus ISPA terlihat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya di beberapa provinsi yang mengalami karhutla. Provinsi seperti Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah menunjukkan peningkatan kasus ISPA dibandingkan tahun lalu, meskipun ada tren penurunan kasus harian di beberapa wilayah.
“Untuk di Kalimantan Barat dibandingkan dari tren tahun lalu sudah mulai menurun ya. Kemudian untuk Kalimantan Selatan dibandingkan tahun lalu masih meningkat ya, walaupun ada tren sudah penurunan. Termasuk Kalimantan Tengah masih meningkat daripada tahun lalu,” ujar Then Suyanti dalam konferensi pers yang disiarkan langsung akun YouTube BNPB, Kamis (22/10/2026).
Partikel halus PM 2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik lainnya yang dihasilkan dari kebakaran hutan diyakini menjadi pemicu utama gangguan kesehatan seperti ISPA dan asma. Asap karhutla juga dilaporkan dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), serta pekerja luar ruangan menjadi prioritas perhatian Kemenkes dalam penanganan dampak karhutla.
Sebagai respons, Kemenkes telah menyiapkan fasilitas kesehatan di wilayah terdampak, termasuk 1.691 puskesmas. Mobilisasi bantuan logistik dan koordinasi dengan rumah sakit rujukan serta Labkesmas juga terus dilakukan.
Pemerintah daerah turut menyiapkan 491 rumah oksigen yang tersebar di masing-masing wilayah terdampak. Kesiapan sumber daya manusia (SDM) kesehatan untuk menangani dampak karhutla juga terus dipantau.
Kemenkes juga aktif dalam koordinasi lintas sektor, termasuk mengeluarkan edaran kesiapsiagaan kepada daerah dan fasilitas kesehatan. Surat imbauan juga dikirimkan kepada Kementerian Agama serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) apabila kualitas udara memburuk.
Masyarakat diimbau untuk selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, menjaga hidrasi dengan minum air yang cukup, serta melindungi kelompok rentan. “Jangan lupa apabila harus keluar menggunakan masker dan jaga hidrasinya, jadi harus konsumsi air minum yang cukup. Kita harus lindungi kelompok rentan karena lebih gampang menderita penyakit,” kata Then Suyanti.
Masyarakat juga diminta untuk mengurangi paparan asap di dalam rumah dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami peningkatan gangguan kesehatan.